Wednesday, March 21, 2012
DIKLAT NCT PKG TUGAS TAMBAHAN DAN PENGAWAS SEKOLAH
Untuk kali kedua aku mendapatkan kesempatan yang penuh berkah keilmuan. Tanggal 12 s/d 16 Maret 2012 di Hotel Mega Anggrek Jakarta Barat mendapat tugas kantor untuk mengikuti Diklat Fasilitator Nasional PKG Tugas Tambahan dan Pengawas Sekolah. Sebuah kesempatan yang bener-bener dapat meningkatkan khazanah keilmuan yang terbaru dalam dunia pendidikan. Kesempatan itu kumanfaatkan betul-betul dengan serius. kulalui setiap tahapan kegiatan yang secara fisik dan psikis sangat melelahkan. Pola diklat yang cukup ketat, membuatku harus mampu mengatur waktu dengan sebaik-baiknya agara semua dapat kulalui dengan hasil gemilang.
Hari pertama, 12 Maret 2012, begitu kakiku menginjak Bandara Soetta aaku bersama kawan dari kantor berjumlah 6 orang bergegas mencari taksi yang bisa mengantar kami ke Hotel Mega Anggrek. Pemandangan gedung menjulang tinggi selalu nampak makin mencakar langit Kota Jakarta. Subhanallah... Hotel Mega Anggrek cukup megah berdiri di pusat kota. Jam 15.00 acara pembukaan dimulai. Materi kebijakan umum dari kemendiknas disajikan pasca pembukaan. Habis shalat isya' dilanjutkan dengan pre-test. Uji pengetahuan awal ini benar-benar memeras otakku untuk mampu menghasilkan skor bagus. 23 soal berhasil kujawab dengan benar dari 30 jumlah total soal. Alhamdulillah...untuk uji awal menurutku sudah layak untuk disyukuri.
Hari kedua, 13 Maret 2012, semua peserta dibagi atas 6 kelompok. Duduk terpisah dengan teman kantor membuatku bisa lebih mengembangkan diri sesuai dengan kompetensi yang kumiliki. Masuk materi inti selama 5 JP PK Pengawas Sekolah, kemudian 5 JP lagi untuk PK Kepala Sekolah. Kegiatan pembelajaran berbasis kompetensi diri benar-benar melatih otakku untuk menyeimbangkan antara kemampuan linguistik dan logis matematis. Alhamdulillah...terkesima juga aku, ternyata aku bisa juga menyelesaikan soal berhitung. Suatu hal yang paling amat kuhindari. Ternyata filosofi bahwa kemauan akan membawa keberhasilan bener jua.
Hari ketiga, 14 Maret 2012, 5 JP pertama PK Wakil Kepala Sekolah dan 5 JP selanjutnya adalah PK Kepala Perpustakaan. Oh ya Allah...ternyata disini kutemukan penghargaan yang sangat tinggi terhadap profesi guru selain tugas utamanya mengajar. Luar biasa...semua harus menjadi pribadi yang pandai bersyukur.
Hari keempat, 15 Maret 2012, 5 JP pertama PK Ketua Program Keahlian dan 5 JP selanjutnya yaitu PK Kepala Laboratorium. Lagi-lagi aku merasa senang mendapat ilmu baru bagaimana menghargai kinerja orang berbasis profesi. Alhamdulillah...pelan-pelan sistem pemerintah benar-benar menghargai profesi guru beserta tugas tambahannya. So...jangan nyesel menjadi guru ya kawan-kawan...
Hari kelima, 16 Maret 2012, hari terakhir yang paling menegangkan. Karena inilah hari aku diuji sejauhmana aku mampu memahami seluruh materi yang disampaikan hari-hari sebelumnya. Tibalah saatnya soal diterima....ohg...30 soal postes yang sangat berbeda dengan pretes, ditambah 7 soal menghitung PK. Itu semua harus diselesekan hanya dlm waktu 2 JP. Masya Allah.... namun aku yakin bahwa aku mampu selesekan semua. Strategi mengerjakan harus dibuat untuk menyelesekan semua.
Akhhhh....akhirnya Alhamdulillah...semua tahapan proses sudah aku lalui...saatnya menanti pengumuman kelulusan. Semoga upayaku selama mengikuti diklat dapat berhasil dengan GEMILANG. Amin....
Bersyukur juga aku duduk dalam kelas yang diberi julukan oleh narasumber sebagai kelas akselerasi, dan kelompokku terdiri dari 8 orang disebut sebagai kelompok Wanita Perkasa. Karena kami beranggotakan 8 orang semua.
Selamat jumpa kembali teman-teman : Bunda Kissumi, bunda Rahma, Bunda Nining, Bunda Wa Ode Manihara, dan 2 bunda yang lain....bersama kalian saya merasa banyak belajar tentang hidup dan kehidupan.
See you next tomorrow......Amin.
Monday, March 19, 2012
BOARDING OR FULL DAY SCHOOL

Berpikir tentang inovasi, tentu harus tiada pernah henti. Mendesain dan memberikan layanan pendidikan yang mampu menjawab kebutuhan user (baca : pengguna) bukanlah suatu hal yang mudah. Harus melalui berbagai tahapan "need analysis" dan perlu keberanian untuk menerapkannya.
Sekolah swasta memiliki wewenang penuh untuk mendesain sistem pendidikan yang berkarakter sesuai dengan yayasan yang menaunginya. Di lain sisi sekolah swasta yang "ecek-ecek" tentu tidak akan mendapatkan tempat dihati user. Pada akhirnya sekolah tersebut hanya akan tinggal nama alias tumbang.
Muhammadiyah, telah lama dikenal oleh masyarakat sebagai penyedia layanan pendidikan yang berkualitas. Tentu kita sepakat bahwa belum semua sekolah Muhammadiyah yang ada di Indonesia telah memenuhi standar kualitas sebagaimana telah ditetapkan. Tidak sedikit juga sekolah Muhammadiyah yang harus berganti label dari SMP ke SMK karena ditinggalkan masyarakat. Tentu saja alasan masyarakat meninggalkan adalah sekolah tersebut kurang bermutu, asal berdiri, manajemen sekolahnya buruk, dan tidak memiliki keunggulan yang pantas untuk dibanggakan. Di sisi lain tidak sedikit pula sekolah Muhammadiyah yang mampu mensejajarkan diri dengan sekolah RSBI, bahkan melampaui. Namun itu pun masih kecil prosentasenya dari jumlah sekolah yang ada.
Perguruan Muhammadiyah Kendal mulai dari TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK berjumlah lebih dari cukup dengan rasio jumlah anak usia sekolah. Namun hanya beberapa sekolah yang sedikit lebih unggul dari sekolah swasta lain. Prestasi yang diraih pun masih "arang-arang" dan belum menggetarkan publik Kendal.
Hal tersebut menjadi pemikiran para stakeholder Muhammadiyah khususnya Pucuk Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kendal khususnya Majlis Dikdasmen, bagaimana caranya mengolah sekolah menjadi produk unggulan yang tidak hanya diminati masyarakat namun juga diserbu oleh user. Bagaimana pengurus Majlis dikdasmen mampu menyuguhkan sekolah yang sesuai dengan karakteristik masing-masing kecamatan tempat sekolah berada. Ini bukan pekerjaan yangmudah, namun juga tidak sulit selama terus berpikir dan berikhtiar.
Baru-baru ini fenomena pendirian "Boarding School" menjadi topik menarik di kalangan masyarakat Muhammadiyah. Semua berlabel Darul Arqam. Buat saya selaku penulis artikel ini, ini terkesan latah dan ikut-ikutan. Dalam teori inovasi, bahwa inovasi yang dilakukan karena ikut-ikutan itu akan menghasilkan sesuatu yang tidak menggetarkan, dalam bahasa jawa "kok podo kae"..."ah wis tau"...dsb.
A. Boarding School
Kehadiran boarding school adalah suatu keniscayaan zaman kini. Keberadaannya merupakan suatu konsekuennsi logis dari perubahan lingkungan sosial dan keadaan ekonomi serta cara pandang religiusitas masyarakat. Pertama, lingkungan sosial kita kini telah banyak berubah terutama di kota-kota besar. Sebagian besar penduduk tidak lagi tinggal dalam suasana masyarakat yang homogen, kebiasaan lama bertempat tinggal dengan keluarga besar satu klan atau marga telah lama bergeser kearah masyarakat yang heterogen, majemuk, dan plural. Hal ini berimbas pada pola perilaku masyarakat yang berbeda karena berada dalam pengaruh nilai-nilai yang berbeda pula. Oleh karena itu, sebagian besar masyarakat yang terdidik dengan baik menganggap bahwa lingkungan sosial seperti itu sudah tidak lagi kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan intelektual dan moralitas anak.
Kedua, keadaan ekonomi masyarakat yang semakin membaik mendorong pemenuhan kebutuhan di atas kebutuhan dasar seperti kesehatan dan pendidikan. Bagi kalangan menengah-atas yang baru muncul akibat tingkat pendidikan mereka yang cukup tinggi sehingga mendapatkan posisi-posisi yang baik dalam lapangan pekerjaan berimplikasi pada tingginya penghasilan mereka. Hal ini mendorong niat dan tekad untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak melebihi pendidikan yang telah diterima orang tuanya.
Ketiga, cara pandang religiusitas. Masyarakat telah, sedang, dan akan terus berubah. Kecenderungan terbaru masyarakat perkotaan sedang bergerak ke arah yang semakin religius. Indikatornya adalah semakin diminati dan semaraknya kajian dan berbagai kegiatan keagamaan. Modernitas membawa implikasi negatif dengan adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan ruhani dan jasmani. Untuk itu masyarakat tidak ingin hal yang sama akan menimpa anak-anak mereka. Intinya, ada keinginan untuk melahirkan generasi yang lebih agamis atau memiliki nilai-nilai hidup yang baik mendorong orang tua mencarikan sistem pendidikan alternatif.
Dari ketiga faktor di atas, sistem pendidikan boarding school seolah menemukan pasarnya. Dari segi sosial, sistem boarding school mengisolasi anak didik dari lingkungan sosial yang heterogen yang cenderung buruk. Di lingkungan sekolah dan asrama dikontruksi suatu lingkungan sosial yang relatif homogen yakni teman sebaya dan para guru pembimbing. Homogen dalam tujuan yakni menimba ilmu untuk menggapai harapan hidup yang lebih berkualitas.
B. Full Day School
Inovasi dalam dunia pendidikan adalah sebuah keniscayaan. Munculnya berbagai inovasi dalam dunia pendidikan mestinya disikapi sebagai fenomena alamiah memenuhi kebutuhan tuntutan perubahan sosial, ekonomi, budaya, dan perkembangan ilmu pengetahuan. Pemberlakuan Full day school (sekolah sehari penuh) di beberapa sekolah, khususnya perkotaan, adalah fragmen kecil inovasi pendidikan, yang bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan dan menolong para orang tua yang sibuk.
Full day school, diadopsi dari negara-negara maju, seperti Jepang, negara Eropa, dan Amerika. Sebagai sebuah inovasi pendidikan, penerapan full day school harus diawali dengan sebuah kajian menyeluruh terhadap semua aspek yang bersentuhan dengan penerapan sistem full day school. Adopsi berbagai praksis pendidikan dari luar negeri harus diadaptasikan dengan kondisi internal dan eksternal satuan pendidikan.
Full day school, tidak hanya sekolah sehari penuh, tetapi lebih dari itu. Ada beberapa sekolah menerapkan full day school hanya sekedar latah, hanya sekedar mengikuti trend tanpa mempersiapkan secara matang sebelum menerapkan full day school. Beban kurikulum yang selama ini dipandang oleh banyak pakar pendidikan terlalu gemuk, kemudian semakin gemuk saat beberapa kurikulum khas lokal sekolah ditambahkan ke dalam kurikulum wajib nasional. Jika penerapan full day school hanya berbasis pada penambahan waktu belajar dan tidak mengindahkan kaidah pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, dan menyenangkan (PAIKEM), maka pemberlakuan full day school akan menjadi “penjara” bagi peserta didik.
Bagi sekolah yang sudah menerapkan full day school namun tidak menyiapkan semua kebutuhan ideal bagi sebuah sekolah sehari penuh, seperti memiliki ruangan yang nyaman untuk didiami berjam-jam, diyakini pembelajaran over time-nya akan tidak efektif. Di samping kondisi ruang belajar yang nyaman, pembelajaran di sekolah sehari penuh harus menerapkan prinsip PAIKEM. Pembelajaran konvensional, metode chalk and talk, ceramah verbal, akan sulit membuat peserta didik tahan berlama-lama di ruang belajar.
Pilihan bebarapa sekolah diperkotaan untuk menerapkan sekolah sehari penuh tidak terlepas dari prinsip suply and demand, ada permintaan ada penawaran. Banyak orang tua di kota-kota besar yang tidak memiliki waktu untuk menemani dan mengawasi anak-anak mereka setelah pulang sekolah, karena sibuk dengan pekerjaannya. Ketika beberapa sekolah menawarkan konsep sekolah sehari penuh, serta merta banyak orang tua yang berminat memasukkan anak-anaknya ke sekolah sehari penuh. Sekolah yang menerapkan konsep sekolah sehari penuh, terutama sekolah berbasis agama, laris diserbu peminat. Banyak orang tua yang tidak peduli dengan mahalnya biaya pendidikan full day school. Saat orang tua tidak memiliki waktu untuk mengawasi anak-anaknya, sekolah dipandang sebagai tempat yang paling aman bagi anak sampai orang tuanya pulang dari bekerja.
Sekolah full day, berkembang menjadi sebuah sekolah eksklusif.sekolah full day berorientasi kepada peningkatan mutu pendidikan, tidak hanya sekedar menggantikan peran orang tua ketika orang tua sibuk bekerja, maka akses bagi siswa kurang mampu harus diperlebar. Idealnya, sekolah yang menerapkan full day, orientasi peningkatan mutu pendidikan yang menjadi tujuan utama, bukan mengedepankan pelayanan menggantikan fungsi orang tua ketika sibuk bekerja.
Kurikulum sekolah full day harus menyeimbangkan pengembangan intelektual dengan ranah pengembangan sosial. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada siang hari, sebaiknya diarahkan pada kegiatan untuk mengasah kemampuan emosional dan interaktif sesama siswa. Misalnya, kegiatan drama, olahraga, atau kegiatan keagamaan.
C. Simpulan
Berdasarkan penjelasan di atas, maka sebagai pelaku dan pemerhati pendidikan khususnya di Muhammadiyah, kita dapat "metani" mana yang cocok diterapkan di sekolah kita yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tentunya daerah pegunungan dengan perkotaan tidak bisa disamakan. Semua sesuai dengan porsi dan karakteristik masyarakatnya.
Bersikap dan bertindak bijaksana, merupakan strategi inovasi yang harus dilakukan, sehingga tidak terkesan latah dan ikut-ikutan yang sedang "in" sekarang.
Selamat berinovasi untuk semua Panglima Sekolah Muhammadiyah...
*Dian Fajarwati
- Staff Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS) Indonesia
- Mahasiswa Program Doktor Manajemen Pendidikan UNNES angkatan tahun 2010.
- Mantan Kepala SMP Muhammadiyah 3 Kaliwungu Kab. Kendal
Thursday, January 1, 2009
Model-model Pembelajaran
Model Examples Non Examples
Contoh dapat dari Kasus/Gambar yang Relevan dengan Kompetensi Dasar
Langkah-langkah :
1. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran
2. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP/In Focus
3. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/menganalisa gambar
4. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas
5. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya
6. Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai
7. Kesimpulan
B. Picture And Picture
Langkah-langkah :
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
2. Menyajikan materi sebagai pengantar
3. Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi
4. Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis
5. Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut
6. Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
7. Kesimpulan/rangkuman
C. >Numbered Heads Together
Langkah-langkah :
1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor
2. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya
3. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya
4. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka
5. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain
6. Kesimpulan
D. Cooperative Script
Metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang dipelajari
Langkah-langkah :
1. Guru membagi siswa untuk berpasangan
2. Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan
3. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar
4. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar : (a) Menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap; (b) Membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya
5. Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Serta lakukan seperti diatas.
6. Kesimpulan Siswa bersama-sama dengan guru
7. Penutup
E. Kepala Bernomor Struktur
Langkah-langkah :
1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor
2. Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomorkan terhadap tugas yang berangkai. Misalnya : siswa nomor satu bertugas mencatat soal. Siswa nomor dua mengerjakan soal dan siswa nomor tiga melaporkan hasil pekerjaan dan seterusnya
3. ->Jika perlu, guru bisa menyuruh kerja sama antar kelompok. Siswa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa bernomor sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja sama mereka
4. Laporkan hasil dan tanggapan dari kelompok yang lain
5. Kesimpulan
F. Student Teams-Achievement Divisions (Stad)/Tim Siswa Kelompok Prestasi (Slavin, 1995)
Langkah-langkah :
1. Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll)
2. Guru menyajikan pelajaran
3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya tahu menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
4. Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu
5. Memberi evaluasi
6. Kesimpulan
G. Jigsaw (Model Tim Ahli)/(Aronson, Blaney, Stephen, Sikes, And Snapp, 1978)
Langkah-langkah :
1. Siswa dikelompokkan ke dalam 4 anggota tim
2. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
3. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan
4. Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka
5. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh
6. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
7. Guru memberi evaluasi
8. Penutup
H. Problem Based Introductuon (PBI)/(Pembelajaran Berdasarkan Masalah)
Langkah-langkah :
1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
2. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
3. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
4. Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya
5. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan
I. Artikulasi
Langkah-langkah :
1. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
2. Guru menyajikan materi sebagaimana biasa
3. Untuk mengetahui daya serap siswa, bentuklah kelompok berpasangan dua orang
4. Suruhlan seorang dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya
5. Suruh siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya. Sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya
6. Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami siswa
7. Kesimpulan/penutup
J. Mind Mapping
Sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal siswa atau untuk menemukan alternatif jawaban
Langkah-langkah :
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
2. Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa/sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban
3. Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang
4. Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi
5. Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru
6. Dari data-data di papan siswa diminta membuat kesimpulan atau guru memberi bandingan sesuai konsep yang disediakan guru
K. Make - A Match (Mencari Pasangan) (Lorna Curran, 1994)
Langkah-langkah :
1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban
2. Setiap siswa mendapat satu buah kartu
3. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang
4. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban)
5. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin
6. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya
7. Demikian seterusnya
8. Kesimpulan/penutup
L.Think Pair And Share (Frank Lyman, 1985)
Langkah-langkah :
1. Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai
2. Siswa diminta untuk berfikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru
3. Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing
4. Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya
5. Berawal dari kegiatan tersebutmengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diuangkapkan para siswa
6. Guru memberi kesimpulan
7. Penutup
M. Debat
Langkah-langkah :
1. Guru membagi 2 kelompok peserta debat yang satu pro dan yg lainnya kontra
2. Guru memberikan tugas untuk membaca materiyang akan didebatkan oleh kedua kelompok diatas
3. Setelah selesai membaca materi. Guru menunjuk salah satu anggotanya kelompok pro untuk berbicara saat itu ditanggapi atau dibalas oleh kelompok kontra demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa bisa mengemukakan pendapatnya.
4. Sementara siswa menyampaikan gagasannya guru menulis guru menulis inti/ide-ide dari setiap pembicaraan di papan tulis. Sampai sejumlah ide yang diharapkan guru terpenuhi
5. Guru menambahkan konsep/ide yang belum terungkap
6. Dari data-data di papan tersebut, guru mengajak siswa membuat kesimpulan/rangkuman yang mengacu pada topik yang ingin dicapai.
Contoh dapat dari Kasus/Gambar yang Relevan dengan Kompetensi Dasar
Langkah-langkah :
1. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran
2. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP/In Focus
3. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/menganalisa gambar
4. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas
5. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya
6. Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai
7. Kesimpulan
B. Picture And Picture
Langkah-langkah :
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
2. Menyajikan materi sebagai pengantar
3. Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi
4. Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis
5. Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut
6. Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
7. Kesimpulan/rangkuman
C. >Numbered Heads Together
Langkah-langkah :
1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor
2. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya
3. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya
4. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka
5. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain
6. Kesimpulan
D. Cooperative Script
Metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang dipelajari
Langkah-langkah :
1. Guru membagi siswa untuk berpasangan
2. Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan
3. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar
4. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar : (a) Menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap; (b) Membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya
5. Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Serta lakukan seperti diatas.
6. Kesimpulan Siswa bersama-sama dengan guru
7. Penutup
E. Kepala Bernomor Struktur
Langkah-langkah :
1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor
2. Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomorkan terhadap tugas yang berangkai. Misalnya : siswa nomor satu bertugas mencatat soal. Siswa nomor dua mengerjakan soal dan siswa nomor tiga melaporkan hasil pekerjaan dan seterusnya
3. ->Jika perlu, guru bisa menyuruh kerja sama antar kelompok. Siswa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa bernomor sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja sama mereka
4. Laporkan hasil dan tanggapan dari kelompok yang lain
5. Kesimpulan
F. Student Teams-Achievement Divisions (Stad)/Tim Siswa Kelompok Prestasi (Slavin, 1995)
Langkah-langkah :
1. Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll)
2. Guru menyajikan pelajaran
3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya tahu menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
4. Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu
5. Memberi evaluasi
6. Kesimpulan
G. Jigsaw (Model Tim Ahli)/(Aronson, Blaney, Stephen, Sikes, And Snapp, 1978)
Langkah-langkah :
1. Siswa dikelompokkan ke dalam 4 anggota tim
2. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
3. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan
4. Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka
5. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh
6. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
7. Guru memberi evaluasi
8. Penutup
H. Problem Based Introductuon (PBI)/(Pembelajaran Berdasarkan Masalah)
Langkah-langkah :
1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
2. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
3. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
4. Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya
5. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan
I. Artikulasi
Langkah-langkah :
1. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
2. Guru menyajikan materi sebagaimana biasa
3. Untuk mengetahui daya serap siswa, bentuklah kelompok berpasangan dua orang
4. Suruhlan seorang dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya
5. Suruh siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya. Sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya
6. Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami siswa
7. Kesimpulan/penutup
J. Mind Mapping
Sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal siswa atau untuk menemukan alternatif jawaban
Langkah-langkah :
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
2. Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa/sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban
3. Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang
4. Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi
5. Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru
6. Dari data-data di papan siswa diminta membuat kesimpulan atau guru memberi bandingan sesuai konsep yang disediakan guru
K. Make - A Match (Mencari Pasangan) (Lorna Curran, 1994)
Langkah-langkah :
1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban
2. Setiap siswa mendapat satu buah kartu
3. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang
4. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban)
5. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin
6. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya
7. Demikian seterusnya
8. Kesimpulan/penutup
L.Think Pair And Share (Frank Lyman, 1985)
Langkah-langkah :
1. Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai
2. Siswa diminta untuk berfikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru
3. Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing
4. Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya
5. Berawal dari kegiatan tersebutmengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diuangkapkan para siswa
6. Guru memberi kesimpulan
7. Penutup
M. Debat
Langkah-langkah :
1. Guru membagi 2 kelompok peserta debat yang satu pro dan yg lainnya kontra
2. Guru memberikan tugas untuk membaca materiyang akan didebatkan oleh kedua kelompok diatas
3. Setelah selesai membaca materi. Guru menunjuk salah satu anggotanya kelompok pro untuk berbicara saat itu ditanggapi atau dibalas oleh kelompok kontra demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa bisa mengemukakan pendapatnya.
4. Sementara siswa menyampaikan gagasannya guru menulis guru menulis inti/ide-ide dari setiap pembicaraan di papan tulis. Sampai sejumlah ide yang diharapkan guru terpenuhi
5. Guru menambahkan konsep/ide yang belum terungkap
6. Dari data-data di papan tersebut, guru mengajak siswa membuat kesimpulan/rangkuman yang mengacu pada topik yang ingin dicapai.
Subscribe to:
Posts (Atom)
